Pernyataan itu disampaikan Zuhrizul dalam momentum peringatan 100 tahun Jam Gadang yang menjadi salah satu ikon wisata paling terkenal di Sumatera Barat kepada wartawan pada Jumat, (5/6/2026).
“Sebagian besar destinasi wisata kita merupakan ciptaan Tuhan berupa keindahan alam, atau peninggalan penjajah Belanda dan Jepang. Kita belum melihat daya tarik wisata yang benar-benar menjadi hasil karya besar kepala daerah. Kalau pun ada, kebanyakan masih bersifat sederhana dan kurang memiliki kualitas sebagai destinasi unggulan,” ujar Zuhrizul.
Ia bahkan menyebut Sumatera Barat selama ini masih “ditolong” oleh keberadaan warisan sejarah yang dibangun pada masa kolonial.
Menurutnya, sejumlah objek wisata yang saat ini menjadi tujuan utama wisatawan merupakan peninggalan masa lalu, seperti Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, Lobang Jepang, Kebun Binatang Bukittinggi, kawasan bekas tambang batu bara di Sawahlunto, kawasan kota tua di Padang, Kelok 44, serta berbagai bangunan bersejarah lainnya.
“Objek-objek itu sampai hari ini masih menjadi magnet wisata. Artinya, kita perlu memikirkan warisan baru yang bisa dikenang generasi mendatang,” katanya.
Dorong Hadirnya Destinasi Wisata Baru
Zuhrizul berharap pemerintah daerah ke depan memiliki keberanian menghadirkan gagasan besar di sektor pariwisata. Menurutnya, Sumatera Barat memiliki modal alam yang luar biasa serta kekayaan budaya yang tak ternilai untuk melahirkan destinasi wisata kelas nasional bahkan internasional.
Ia mengungkapkan, TP2DEWI pernah mengusulkan sejumlah proyek strategis yang dinilai mampu menjadi daya tarik wisata baru sekaligus mendongkrak perekonomian daerah.
Salah satunya adalah pembangunan Taman Safari di Kabupaten Agam melalui kerja sama pemerintah daerah dengan investor dan dukungan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Sumbar. Dalam konsep tersebut, Kebun Binatang Bukittinggi dapat dialihkan fungsinya menjadi taman burung atau wahana wisata perkotaan lainnya, sementara satwa dipindahkan ke kawasan safari yang lebih luas.
“Konsep ini juga memungkinkan hadirnya night safari yang dapat menjadi daya tarik wisata malam bagi wisatawan,” jelasnya.
Selain itu, TP2DEWI juga mengusulkan pembangunan kebun buah terpadu di Kabupaten Padang Pariaman. Kawasan tersebut diharapkan menjadi destinasi wisata rekreasi, edukasi, penelitian, sekaligus pusat konservasi buah-buahan lokal yang mulai langka di Sumatera Barat.
Kampung Minang hingga Planetarium Bonjol
Gagasan lainnya adalah pembangunan Kampung Minang yang menampilkan rumah adat khas dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai pusat wisata budaya, edukasi, akomodasi wisatawan, hingga pusat pembelajaran silek tradisional Minangkabau.
Zuhrizul juga mendorong pemugaran menyeluruh Candi Padang Roco di Kabupaten Dharmasraya yang memiliki nilai sejarah penting sebagai salah satu jejak awal peradaban Minangkabau sebelum masa pemerintahan Adityawarman di Pagaruyung.
Menurutnya, jika ditata dan dipugar secara optimal, kawasan tersebut berpotensi menjadi destinasi edukasi sejarah yang wajib dikunjungi pelajar dari berbagai daerah.
Selain itu, pembangunan Planetarium Bonjol di Kabupaten Pasaman juga dinilai layak diwujudkan. Keberadaan garis khatulistiwa di kawasan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata edukasi berbasis sains dan literasi.
Warisan untuk Anak Cucu
Zuhrizul berharap kepala daerah di masa mendatang tidak hanya fokus pada program jangka pendek, tetapi juga meninggalkan warisan pembangunan yang memiliki nilai sejarah dan manfaat jangka panjang.
“Kita berharap akan lahir daya tarik wisata baru yang dikenang generasi Minang dan dunia. Kepala daerah datang dan pergi, tetapi karya besarnya harus tetap hidup menjadi cerita bagi anak cucu kita nantinya,” tutup Zuhrizul. (***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar